Sebagai anak kosan, Indomie sudah menjadi makanan favorit dan penyelamat dikala lapar melanda. Harganya yang terjangkau, pembuatannya mudah, rasanya yang enak dan banyak dijual di berbagai tempat menjadikan Indomie banyak digemari dikalangan anak kosan seperti saya.
Membayangkan saat hujan sore sore lalu bikin Indomie pakai cabe dan telor aja udah bikin ngiler. Karena sering makan Indomie, seumpama diadakan lomba tebak merk mie instan dengan mata tertutup, saya sudah bisa menebak produk ini.
Konon katanya Indomie yang dijual di Luar Negeri rasanya beda dengan yang di Indonesia lho. Berbekal rasa penasaran dan rasa rindu dengan Indomie, juga karena stok Indomie yang saya bawa dari Indonesia sudah lama habis, berjalanlah saya ke Jupiter untuk membeli mie instan ini. Tak sabar saya segera pulang dan menyantap makanan favorit saya ketika ngekos ini.
Penasaran? Jadi, beginilah rasanya makan Indomie yang dijual di Jepang.
1. Harga
Di Jepang, khususnya toko yang saya beli, untuk satu item Indomie setiap bungkusnya dihargai ¥127 atau sekitar Rp.14.000 (kurs Rp.111/¥1). Wow, sangat mencengangkan bukan? Indomie yang biasanya saya beli di warung deket rumah seharga dua ribuan, kini sayapun harus mengeluarkan uang tujuh kali lipat untuk 1 item yang sama. Yah walaupun sedikit menyayangkan dengan harganya yang lebih mahal, tetapi ketika dipikir secara realistis ya namanya juga barang import pasti memerlukan biaya lebih buat modal mendatangkan barang ini dari asalnya.
2. Kemasan
Dari segi kemasan terkait desain, warna dan gambar tidaklah berbeda dengan Indomie di Indonesia, perbedaan ini terletak pada tulisan di kemasan yang menggunakan 4 bahasa, wow multilingual ya ges ya. Pada bagian depan kemasan tertulis judul dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Korea, pada bagian belakang tertulis penjelasan menggunakan Bahasa Korea yang ditempeli stiker penjelasan dengan Bahasa Jepang. Setelah saya amati ternyata Indomie yang saya beli ini adalah produk untuk distribusi ke korea tapi dijualnya di Jepang. Nah bingung gatuh wkwkw.
3. Komposisi bumbu
Untuk aneka bumbu di dalam Indomie ini terdapat kemasan bumbu, minyak dan kecap. Hanya itu saja? Yapp benar hanya itu saja. Tidak ada saus sambal dan tidak ada bawang goreng.
Bagi saya sebagai orang Indonesia, ketiadaan saus sambal masih bisa ditoleransi dan bisa diakali dengan menambahkan cabai atau cabai bubuk. Tapi bagi orang Jepang yang sebagai target konsumen Indomie ini, saus sambal yang sedikit itu mungkin udah bikin kepedesan. Orang Jepang di tempat saya internship aja pas saya tawari bon cabe juga pada nggak mau wkwk.
Salah satu hal paling krusial dalam dunia per-mie-instan-an menurut saya adalah adanya bawang goreng. Lagi lagi mungkin untuk menyesuaikan dengan selera lokal, karena selama 7 bulan saya di Jepang dan sering beli mie instan merek jepang pun saya juga belum mendapati adanya bawang goreng maupun taburan yang menyerupainya, atau saya ya yang mainnya kurang jauh wkwk. Menurut saya ini bisa menjadi kesempatan yang menjadi ciri khas kalau mie instan dari Indonesia memiliki bawang goreng di dalamnya
4. Citarasa
Kalau untuk cita rasa, jangan diragukan lagi. Rasa gurihnya persis kayak Indomie yang saya beli di Indonesia. Iya, persis banget, nggak ada tuh rasa keasinan atau hambar. Benar benar pas, mantab. Saya belum menemukan merek mie instan Jepang yang rasanya kayak Indomie original ini.
Jadi begitulah ulasan mengenai Indomie yang saya beli di Jepang. Memang ya kalau mau makan Indomie dengan nikmat yang paripurna adalah makan Indomie yang dibeli di Indonesia. Karena kalau beli di luar negeri, sudah disesuaikan dengan selera lokal dan target marketnya bukan orang Indonesia. Walaupun begitu ya gapapa, saya masih bisa menikmati kelezatan Indomie, juga setidaknya sudah menjawab rasa penasaran saya.
Referensi
Na'im, Ainun, dkk. 2020. Agrisya. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian Mie Instan Merek Indomie di Kalangan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret. Volume 3 (4).







Komentar
Posting Komentar